Usaha Rintisan Harus Tetap ‘Miskin’

Keuangan

“When we have money, we start making mistakes.”Jack Ma.

Usaha rintisan tutup karena kehabisan uang, itu cerita biasa. Tapi usaha rintisan bubar karena terlalu banyak uang, bukan kisah yang kita dengar sehari-hari. Tapi banyak terjadi.

Saya punya teman seorang founder usaha rintisan. Orang kaya dan berpengaruh. Teman-temannya jauh lebih kaya. Ia mendirikan usaha rintisan berbasis teknologi (tech startup). Modal awal dari kantongnya sendiri sudah siap lebih dari Rp 2 miliar. Dana investasi yang ia himpun dari teman-temannya lebih dari Rp 5 miliar. Sehingga uang yang siap di kantongnya total hampir Rp 10 miliar.

Waktu dia menceritakan ini kepada saya di masa-masa awal hendak mendirikan startup, saya hanya bertanya, “Dengan Rp 10 miliar, berapa runway-mu?” (saya akan jelaskan tentang apa itu runway di bawah).

Dia bilang 2 tahun.

“Kamu punya Rp 10 miliar sebagai alat untuk membunuh dirimu sendiri. Tapi saya tetap berdoa agar kamu berhasil,” jawab saya.

Startup itu pun didirikan. Kantor mahal disewa. Karyawan direkrut lebih dari 10. Chief-nya (yang juga co-founder) ada 5 dan digaji puluhan juta. Alat-alat kerja karyawannya hi-spec: minimal iMac dan Macbook. Infrastruktur dan tool teknologi yang digunakan/disewa semuanya hi-end. Sebulan sekali seisi kantor gathering jalan-jalan.

Biaya operasional per bulan tidak kurang dari Rp 600 juta. Doa saya makin kencang.

Baru 1 tahun Rp 10 miliar itu hampir habis. Penghasilan masih Rp 0. Masuk tahun ke-2 ia mulai sibuk cari investor baru. Dari beberapa co-founder dan karyawannya — yang juga berteman dengan saya — saya dengar usahanya sedang sekarat. Dua chief dan separuh karyawan sudah mundur.

Sekarat karena terlalu banyak uang.

MACGYVER, BUKAN ETHAN HUNT

Kalau kita telaah sejarah manusia, kemajuan sebuah bangsa tidak hanya bisa dibentuk dari keunggulan mereka terhadap penguasaan sumberdaya. Namun juga karena keterbatasan sumberdaya dan ancaman. Kita melihat bagaimana kemajuan peradaban terjadi pada bangsa yang mengalami iklim keras, alam yang buas, atau musuh yang kejam. Hidup dalam serba kekurangan dan kecemasan mampu menstimulasi otak manusia menjadi lebih kreatif dan cerdas. Menjadi motivasi amat kuat untuk memecahkan masalah secara lebih efisien dan efektif. Karena bila gagal mereka bisa ‘punah’.

Dorongan terkuat manusia adalah dorongan bertahan hidup.

Kelimpahan sumberdaya dan rendahnya ancaman justru bisa memperlambat kemajuan sebuah bangsa. Bangsa kita punya sejarah yang panjang dalam penjajahan oleh bangsa lain yang lebih maju dan tidak lebih berlimpah dibanding kita.

Jadi, kemajuan sekelompok manusia ditentukan oleh para manusia itu sendiri. Untuk mencapai kemajuan itu, diperlukan ekosistem yang tepat yang bisa mengakselerasi segala potensi manusia di dalamnya dan terus-terusan menembus batas. Ekosistem dimana orang-orang di dalamnya secara konstan tetap merasa rentan dan terancam.

Usaha rintisan harusnya menjadi Macgyver, bukan Ethan Hunt. Macgyver adalah orang seorang problem solver yang bekerja dalam segala keterbatasan dan ancaman, menggunakan segala sesuatu yang bisa ia temukan di sekelilingnya. Barang paling canggih miliknya hanya pisau lipat serbaguna (pisau Swiss Army) yang selalu dibawanya. Namun masalah apapun bisa ia pecahkan dengan biaya nol.

Sementara Ethan Hunt di film Mission Impossible bekerja dengan alat-alat canggih dan mahal. Dibiayai negara. Anggarannya unlimited. Timnya diisi oleh orang-orang terbaik yang dilatih dalam waktu panjang.

Startup anda mungkin ingin jadi Ethan Hunt. Tapi dana anda tidak unlimited dan tim anda diisi orang-orang tak berpengalaman.

Usaha rintisan harus berorientasi Macgyver. Efisien, efektif, dan mampu memecahkan masalah-masalah kompleks secara optimal dalam segala keterbatasan. Ekosistem seperti ini harus mampu anda ciptakan bukan saja agar startup anda panjang umur, tapi juga mendorong kreativitas, kecerdasan, dan kerja keras manusia di dalamnya.

[vc_single_image image=”13385″ img_size=”580×150″ alignment=”center” onclick=”custom_link” link=”#login” el_class=”logintrig” css=”.vc_custom_1524312751498{margin-top: -20px !important;margin-bottom: 14px !important;}”]

MODAL LEPAS LANDAS

Tidak penting seberapa besar atau kecil modal yang anda miliki, nilai manfaatnya adalah seberapa lama modal itu akan terbakar habis (burned). Ini disebut runway atau ketahanan modal.

Anggaplah ada sebuah desa yang dihuni 50 orang dan memiliki 1 lumbung gandum berkapasitas 1 ton. Selama ini 1 ton gandum cukup untuk semua penduduk desa dalam 1 tahun. Seiring penduduk baru bertambah jadi 100 orang, 1 ton hanya cukup 6 bulan. Bertambah lagi jadi 200 orang, gandum habis dalam 1 bulan. Jadi, 1 ton itu banyak buat 50 orang, tapi terlalu sedikit untuk 200 orang. Runway gandum 1 ton itu 1 tahun buat 50 orang, tapi hanya 1 bulan untuk 200 orang.

Tidak penting berapa banyak atau sedikit gandum yang anda miliki, namun seberapa lama anda bisa hidup dengan gandum tersebut.

Usaha rintisan itu seperti pesawat terbang. Supaya bisa terbang, ia harus punya landasan pacu (runway) yang cukup. Di masa awal pesawat anda masih ada di landasan pacu. Kalau pesawat sudah terbang, berarti sukses. Membangun landasan pacu yang cukup agar pesawat anda bisa terbang ini perlu modal. Bila modal anda habis, pembangunan landasan pacu mandek, pesawat tidak jadi terbang.

Kalau uang habis di tengah jalan dan landasan pacu belum selesai, maka biasanya kita melakukan penambahan modal dengan cara mencari investor baru atau utang bank. Tapi tidak sedikit juga yang tutup atau mandek begitu-begitu saja (dan akhirnya tutup juga).

Setiap kita mulai merencanakan usaha, biasanya kita membuat target kapan lepas landas. 2 tahun misalnya. Namun ini target, bukan fakta. Ini cuma asumsi, dan asumsi bisa keliru. Bisa saja setelah 2 tahun ternyata tidak juga sukses. Karena itu sangat berisiko bila modal yang kita miliki hanya punya runway atau ketahanan 2 tahun. Sehingga diperlukan efisiensi dalam penggunaannya untuk memperpanjang runway atau ketahanan modal, namun sekaligus optimal.

Dalam mewujudkan efisiensi  demi ketahanan usaha inilah diperlukan ‘Macgyver yang miskin’. Sudah Macgyver, miskin pula.

Biaya operasional Arkademi per tahun totalnya hanya Rp 1,5 juta untuk membayar license beberapa tool. Kalau saya punya persiapkan modal Rp 10 juta, artinya Arkademi punya runway 6 tahun. Bandingkan dengan startup kawan saya tadi. Rp 10 miliar cuma cukup 1 tahun. Arkademi dengan Rp 10 juta bisa cukup 6 tahun. Padahal yang kami lakukan terhadap modal itu sama: untuk menciptakan landasan pacu yang cukup agar lepas landas.

TETAP ‘MISKIN’ DAN CEMAS

Apple adalah perusahaan dengan nilai paling tinggi di dunia saat ini. Valuasinya $ 752 miliar. Mengalahkan para raksasa perusahaan minyak dan institusi keuangan. Tapi Steve Jobs, pendirinya, mengatakan bahwa Apple adalah startup paling besar di planet ini. Artinya, Apple tetap dijalankan dengan falsafah dan metode usaha rintisan — yang salah satunya harus efisien.

Salah satu nasihat Steve Jobs paling fenomenal: stay hungry, stay foolish.

Karena rasa lapar dan keingintahuan itu adalah salah satu pencetus terbesar kemajuan. Bukan berarti lapar dalam arti sebenarnya.

Sedangkan Jack Ma ‘mewajibkan’ semua orang di Alibaba untuk tetap merasa cemas dan rentan. Bahkan harus cemas dengan kebesaran dan stabilitas Alibaba itu sendiri.

Kita sering mendengar kisah tentang para founder startup sukses yang di masa-masa awal rintisan hidup sangat sederhana dan hemat. Bukan karena mereka tidak punya uang untuk hidup lebih nyaman. Namun memelihara ‘kemiskinan’, ‘kelaparan’, dan ‘kecemasan’ dalam startup mereka sebagai ekosistem yang mampu untuk menjadikan manusia di dalamnya berkembang cepat.

Kita sebenarnya tidak pernah kekurangan uang. Tapi kita kekurangan orang yang punya impian dan berani mati demi mencapai impian tersebut. (*)

[vc_btn title=”DAFTAR. DAPAT GRATIS 5 KELAS” color=”danger” align=”center” css_animation=”flipInX” button_block=”true” link=”url:%23login|||” el_class=”logintrig”]