Startup Mati Kelebihan Uang

Hampir semua usaha yang tutup atau mati karena kehabisan uang. Tapi tidak jarang saya menyaksikan usaha rintisan atau startup mati karena kelebihan uang.

Jack Ma bilang: “Ketika anda punya uang, anda akan membuat kesalahan.”

Rata-rata teman-teman pelaku startup yang ngobrol dengan saya mengeluhkan susahnya mendapatkan dana modal awal atau investasi untuk memulai usahanya. Ini cerita biasa. Tapi bukan satu-dua teman saya yang startup-nya mati sebelum berkembang justru karena punya uang terlalu banyak di awal.

Aneh ‘kan? Aneh.
Banyak? Banyak banget!

Hukum di semesta ini: tidak ada sumberdaya yang tidak terbatas. Berapapun banyaknya sumberdaya yang anda punya pasti bisa habis. Apalagi uang.

Ada satu kesamaan dari kawan-kawan saya di atas tadi yang startup-nya mati karena kebanyakan uang: mereka orang kaya atau kenal dekat dengan banyak orang kaya. Dengan begitu mereka tidak punya masalah pendanaan ketika memulai usaha. Modal awal bisa miliaran atau belasan miliar.

KEHILANGAN DISIPLIN

Mereka yang tidak mengalami sulitnya mengumpulkan sen demi sen, cenderung tidak disiplin dengan uang. Mereka yang tidak bisa mengembangkan uang kecil menjadi uang besar, cenderung tidak bisa mengembangkan uang besar menjadi lebih besar lagi.

Dalam tulisan saya sebelumnya berjudul Usaha Rintisan Harus Tetap ‘Miskin’, saya menyinggung soal dorongan terkuat manusia adalah dorongan bertahan hidup. Hidup dalam serba kekurangan dan kecemasan mampu menstimulasi otak manusia menjadi lebih kreatif dan cerdas. Dorongan seperti ini kebanyakan tidak dimiliki oleh mereka yang memulai sesuatu dengan mudah.

Tentu bukan salah mereka jadi orang kaya atau mudah dapat modal besar. Hal tersebut adalah salah satu keunggulan yang langka dan diidamkan banyak orang. Namun keunggulan itu bila salah disikapi akan memukul balik dan membunuh.

Setiap usaha rintisan manapun di dunia ini selalu dimulai dari derajat ketidakpastian yang tinggi. Tak peduli berapa besar modal yang anda punya, startup anda akan berhadapan pada ketidakpastian. Tidak pasti ada yang pakai, yang beli, atau tidak pasti juga bisa hidup atau berkembang secara berkelanjutan. Tak ada satupun dari faktor-faktor eksternal ini yang bisa diketahui atau diantisipasi seluruhnya di awal. Karena itu perlu kedisiplinan mengelola sumberdaya dalam menghadapi ketidakpastian itu, terutama uang. Diperlukan sikap keuangan yang efisien, atau bahkan pelit sekalian. Memastikan bahwa setiap sen uang yang keluar berhubungan langsung dengan tahapan, target, business model, dan situasi aktual yang sedang terjadi.

Semua itu gampang diucapkan. Tapi bila dihadapkan langsung, tak hanya bikin sakit kepala. Tapi begitu banyak godaan akan ilusi kesempurnaan.

banner CTA blog mobile app arkademi

ILUSI KESEMPURNAAN

Bila kau hanya punya palu, maka semua masalah akan kau anggap sebagai paku.

Salah satu musuh terbesar pelaku usaha rintisan adalah hasrat kesempurnaan. Memulai sesuatu inginnya langsung besar dan ideal. Langsung hebat dan tanpa cacat. Padahal untuk membuat yang seperti itu bukan hanya butuh biaya besar, tapi juga lama. Mending kalau uangnya ada. Kalaupun uangnya ada, tidak ada yang menjamin ketika sesuatu yang perfect itu dirilis ke pasar orang akan langsung berbondong-bondong beli.

Berapa banyak kita menyaksikan usaha yang ‘wah’ di awal lalu tutup beberapa bulan kemudian. Berapa banyak aplikasi yang dibuat dengan biaya sangat mahal tapi akhirnya mati di tengah jalan. Padahal di awal-awal kantor yang mewah sudah disiapkan, komputernya Mac semua, gaji karyawannya tinggi, bahkan sudah punya sekretaris sampai cleaning service. Pokoknya ‘gak malu-maluin’, lah! Tidak peduli bahwa belanja yang seperti ini sangat harus dihindari oleh sebuah startup di masa-masa awal.

Bukan cuma dua-tiga kali saya bertemu dengan teman pelaku tech startup yang punya aplikasi hebat serta dibuat dengan begitu lama dan mahal, tapi ternyata gagal di pasar. Baik gagal mendapatkan pengguna atau transaksi sesuai target. Padahal begitu banyak uang, waktu, tenaga, dan pikiran untuk membuatnya. Yang model begini sangat banyak terjadi.

HILANGNYA MVP

Contoh paling umumnya begini.

Seorang founder yang punya banyak uang ingin membuat sebuah startup dengan produk berbasis teknologi. Awalnya ia punya ide sederhana namun solid sebagai produk inti atau minimum viable product (MVP). Tapi ia tidak puas kalau nanti aplikasinya ketika pertama kali rilis nanti ‘terlalu sederhana’. Harus canggih dan wah. Harus bisa ini-itu. Maka ditambahkanlah berbagai atribut dan fitur. Sehingga dalam konsep awal pun tidak jelas lagi mana MVP atau produk intinya karena begitu banyak atribut.

Saya melihat kecenderungan ini: seorang founder non-teknikal menganggap enteng pekerjaan coding. Ia menganggap menambahkan fitur-fitur itu seperti disulap. Ketak-ketik beberapa baris kode saja bisa langsung jadi. Terkutuklah founder seperti ini.

Ia tidak bisa coding. Tapi punya uang banyak. Direkrutlah beberapa atau banyak programmer. Baik sebagai karyawan atau freelance. Seberapapun hebatnya seorang programmer akan kehilangan arah bila sejak awal membuat produk dari nol tanpa panduan atau requirement. Itu ‘seorang’. Bagaimana kalau tiga, empat, lima orang? Ya dikali lima ruwetnya. Sementara gaji bulanannya juga dikali lima.

Karena imajinasi si founder tadi sudah berkembang sedemikian jauh dengan berbagai atribut dan fitur, business modelnya jadi makin kabur. Apa yang jadi business model utama di awal kian tidak jelas. Pokoknya semua mau digarap biar canggih. Ketika sebuah fitur itu mesti ada hubungan langsung dengan business model, maka prioritas makin tidak jelas. Dari sekian banyak yang harus dibuat, apa dulu yang mesti dibuat? Fitur mana yang prioritas?

Di titik ini semua orang dalam perusahaan, terutama programmer yang tugas utamanya membuat produk, jadi kebingungan. Tiap hari tugas berubah. Sudah jadi diubah lagi oleh founder. Gambar geser sedikit saja tidak terima. Mesti pixel perfection.

Akhirnya membuat produk versi awal menjadi lama sekali. Bisa berbulan-bulan atau tahunan. Setiap hari uang terbakar untuk operasional. Bila beruntung, mungkin produk atau aplikasi itu akan dirilis. Bertemu dengan realita yang tak seindah harapan. User menganggap aplikasinya bagus. Tapi setelah itu uninstall atau tidak pernah pakai lagi. Atau berhasil mendapatkan banyak user, namun gagal mencapai product-market fit yang sesuai dengan business model.

Ini kisah yang umum. Namun tersembunyi dari pandangan banyak orang.

***

Hal pertama yang harus disadari oleh semua pelaku tech startup adalah: tech startup itu usaha padat karya, bukan padat modal. Ia bisa dan semestinya dimulai oleh sebuah karya yang bernilai — yakni produk yang berdiri di atas business model yang solid. Kalau anda menganggap memulai sebuah tech startup harus memiliki dan menggunakan modal besar; stop. Jangan lanjutkan. Berapapun uang yang anda punya akan habis terbakar dan tak menyisakan apapun — kecuali anda akan belajar banyak dari situ.

FYI, Arkademi dimulai dengan modal hanya Rp 750.000 (tujuh ratus lima puluh ribu rupiah). Biaya hosting VPS sebesar Rp 1,5 juta/per bulan digratiskan oleh teman yang kini menjadi salah satu investor di Arkademi. Jadi tidak keluar uang infrastruktur hosting sepeserpun. MVP Arkademi hanya dibuat dalam waktu 1 bulan dan langsung rilis. Dibuat menggunakan tangan saya sendiri dan sendirian. Selanjutnya, di 6 bulan pertama berhasil terkumpul transaksi hampir Rp 200 juta.

Jadi, bila anda tidak punya uang untuk memulai tech startup anda, sangat mungkin itu adalah sebuah keunggulan. Anda akan menempa diri untuk memiliki karakter seorang founder: kerja keras, selalu belajar, tahan banting, efisien, cerdik, dan rela berkorban.

Tapi bila anda memulai tech startup anda dengan uang besar milik anda sendiri atau orang lain, belajarlah dari kisah ini. (*)

1 August 2019

0 komentar untuk "Startup Mati Kelebihan Uang"

Beri Komentar

© 2017-2019 PT Arkademi Daya Indonesia