Cara Menghitung Pembagian Saham Usaha

Alkisah, Andi adalah seorang chef restoran ternama yang berpengalaman. Masakannya sudah terkenal enak. Bosan jadi karyawan, ia ingin mendirikan restoran sendiri. Setelah ia hitung modal mendirikan dan operasional restoran di tahun pertama perlu Rp 100 juta. Ia tidak punya uang dan tidak mau berutang ke bank.

Maka Andi datang ke Bobi, teman lamanya yang gemar kuliner dan punya banyak uang. Andi mengajak Bobi bermitra mendirikan usaha restoran. Andi jujur ia tak punya uang. Kontribusi yang bisa ia berikan adalah sebagai chef yang membuat produk (yakni makanan) dan mengelola operasional bisnis restoran. Tanpa uang tak mungkin restoran bisa didirikan.

Sementara Bobi tidak bisa masak, tapi punya uang. Tanpa chef yang bisa membuat masakan tak mungkin restoran bisa didirikan.

Sampai di sini keduanya sama-sama memahami bahwa baik Andi maupun Bobi punya sumberdaya vital yang unik yang dibutuhkan untuk mendirikan usaha: uang dan kompetensi. Karena tanpa salah satunya tidak mungkin usaha restoran bisa berdiri.

Maka mereka bersepakat untuk bermitra mendirikan restoran dan membentuk badan usaha bernama PT Kuliner. Andi bertanggungjawab sebagai chef dan memimpin operasional restoran. Bobi memodali uang Rp 100 juta untuk menyewa ruko, membeli peralatan masak, biaya operasional dll. Biasa disebut sebagai belanja modal (capital expense, Capex) dan working capital (modal kerja).

Sampailah mereka ke tahap mendiskusikan berapa besar saham yang akan dimiliki oleh masing-masing orang. Setelah negoisasi alot, akhirnya mereka sepakat bahwa uang dan kompetensi seimbang. Maka mereka memutuskan Andi dapat 50% saham, Bobi juga 50% saham. Dalam akta pendirian perusahaan mereka menyebut perusahaan mereka menerbitkan 100 lembar saham dimana Andi dapat 50 lembar saham, Bobi 50 lembar saham.

Saham sebagai sebuah kekayaan harus ada nominalnya dan dicantumkan di dalam akta pendirian perusahaan. Nilai keseluruhan saham — yang 100 lembar itu — bukan berdasarkan modal Rp 100 juta tadi. Tapi berdasarkan nilai usaha. Sedangkan nilai usaha bukanlah modal Rp 100 juta di awal.

Nilai usaha adalah nilai serangkaian arus kas masuk (cash flow) atau pendapatan prospektif yang akan dihasilkan perusahaan di masa depan. Umumnya 5 tahun. Paling singkat 3 tahun.

Maka mereka membuat rencana usaha sampai 5 tahun ke depan yang mencantumkan cash flow dan laba dari tahun ke-1 sampai tahun ke-5. Dengan menggunakan Kalkulator Nilai Usaha di Arkademi, Andi dan Bobi mendapatkan hasil bahwa nilai usaha mereka saat ini adalah Rp 1 miliar.

Jadi, PT Kuliner saat didirikan bernilai (valuasi) Rp 1 miliar. Dengan 100 lembar saham, maka per lembarnya bernilai Rp 10 juta. Dengan begitu kekayaan Andi (dalam bentuk saham) adalah Rp 500 juta, Bobi juga Rp 500 juta.

Mereka menyatakan komitmennya untuk sama-sama memajukan usaha ini dengan visi yang sama. Komitmen itu mereka nyatakan dengan tidak akan menjual atau mengalihkan saham mereka (yang merefleksikan kepemilikan) kepada pihak lain dalam masa 3 tahun. Karena kalau saham dijual kepada orang lain maka bisa saja pemilik saham baru akan mengubah arah perusahaan. Komitmen ini disebut sebagai vesting period atau periode dimana para pemegang saham tidak boleh mengalihkan kepemilikan sahamnya kepada orang lain, baik dijual maupun diberi cuma-cuma. Hal ini mereka cantumkan dalam akta pendirian perusahaan.

Setelah itu Andi dan Bobi memulai usaha mereka.

MASUKNYA CO-FOUNDER BARU

6 bulan berjalan restoran ramai. Tapi ternyata Andi kerepotan mengurus restoran pada aspek operasional dan bisnis. Karena di dapur saja sudah repot. Sementara mengurus restoran tak hanya mengurus dapur. Harus menangani kasir, pelayan, kebersihan, logistik, marketing dll. Andi mengaku kepada Bobi dia tak sanggup lagi mengurus operasional sebagai manajer restoran. Hanya sanggup jadi manajer dapur saja.

Idealnya, Bobi yang akan turun tangan menjadi manajer operasional. Tapi karena Bobi punya pekerjaa tetap sebagai karyawan di perusahaan lain yang tak bisa ditinggalkan, maka Bobi pun tak sanggup.

Maka mereka bersepakat mencari orang baru yang sanggup dan berpengalaman sebagai manajer operasional restoran. Kebetulan Andi punya teman dengan spesifikasi itu bernama Cecep. Maka diajaklah Cecep bergabung. Cecep setuju, tapi minta gaji tinggi. Andi dan Bobi tidak sanggup menggaji setinggi itu. Kemudian mereka menawarkan bagaimana kalau gaji sekian sekaligus menjadi co-founder dengan saham 10%. Cecep setuju.

BERTAMBAHNYA JUMLAH SAHAM

Bila Cecep jadi pemegang saham baru senilai 10%, tentu komposisi 50%-50% antara Andi dan Bobi akan berubah. Tapi tidak sesederhana menjadi 45% Andi, 45% Bobi, dan 10% Cecep. Karena ada komitmen vesting period dimana Andi dan Bobi dilarang mentransfer saham mereka kepada pihak lain. Kalau Andi dan Bobi menyerahkan saham mereka masing-masing 5% agar Cecep mendapat 10%, itu sama saja mentransfer saham atau buy out. Tidak boleh.

Maka, harus diterbitkan saham baru khusus untuk Cecep yang akan ditambahkan ke saham yang sudah diterbitkan sebelumnya.

Karena disepakati Cecep mendapatkan 10% saham, maka 10% dari 100 lembar saham eksisting adalah 10 lembar. Maka tambahkan 10 lembar itu ke 100 lembar eksisting. Total jumlah saham menjadi 110 lembar. Dengan demikian Andi punya 50 lembar, Bobi 50 lembar, Cecep 10 lembar.

Komposisi prosentase saham tentu saja berubah, karena pembaginya bukan 100 lagi, tapi 110 lembar. Artinya, prosentase kepemilikan Andi menjadi 45,5% (50/110), Bobi 45,5% (50/110), Cecep 9% (9/110).

Dari situ bisa dilihat bahwa Cecep tetap mendapat 10 lembar saham yang merupakan 10% dari 100 lembar saham lama. Tapi ketika lembar saham baru diterbitkan, prosentase kepemilikannya adalah 9% dalam komposisi yang baru. Sementara saham Andi dan Bobi sama-sama menyusut atau terdilusi karena masuknya Cecep sebagai pemegang saham baru.

Dengan diterbitkannya lembar saham baru tanpa ada penyertaan modal baru atau target usaha baru, maka valuasi usaha tidak bergerak dari Rp 1 miliar. Namun nilai per lembar saham turun karena Rp 1 miliar harus dibagi menjadi 110 lembar. Dengan masuknya Cecep, maka nilai per lembar saham dari sebelumnya Rp 10 juta/lembar, menjadi Rp 9 juta/lembar.

CLIFF PERIOD CO-FOUNDER BARU

Cecep tidak seperti Andi dan Bobi yang bersahabat sejak lama yang sudah mengenal luar-dalam. Karena itu Andi dan Bobi ingin supaya Cecep menjalani masa ujicoba sebagai co-founder pemegang saham baru. Ini dinamakan Cliff Period yang biasanya 1 tahun. Kalau ternyata dalam 1 tahun itu kerja Cecep tidak memuaskan, Andi dan Bobi bisa memberhentikan dan mencabut saham Cecep. Lembar saham tetap 110 dimana Andi dan Bobi masing-masing mendapat 55 lembar dan komposisi kembali ke 50%-50%.

Cliff period untuk Cecep ini juga dicantumkan dalam akta perusahaan yang diubah karena masuknya Cecep. Karena pendirian usaha adalah keperdataan yang berdasarkan kesepakatan, maka mereka bebas mencantumkan aturan-aturan yang mereka sepakati sendiri selama tidak melanggar hukum.

MEMBAGI DIVIDEN

Pada tutup buku di akhir tahun, mereka mendapati ternyata total saldo kas restoran ada Rp 500 juta setelah dikurangi kewajiban kepada pihak lain seperti pajak dan tagihan dari supplier. Rp 500 juta inilah laba untuk Andi, Bobi, dan Cecep.

Tapi laba Rp 500 juta ini tidak bisa langsung dibagi-bagi berdasarkan prosentase kepemilikan saham. Karena restoran tetap harus dilanjutkan di tahun ke-2. Agar bisa dilanjutkan, restoran harus punya modal kerja di tahun ke-2. Asal modal kerja berasal dari laba tahun ke-1 yang Rp 500 juta tadi.

Maka Andi, Bobi dan Cecep mendiskusikan apa yang akan mereka lakukan dengan laba Rp 500 juta ini agar restoran tetap berjalan di tahun ke-2 sekaligus mereka sebagai individu bisa menikmati laba tersebut. Dalam perusahaan diskusi ini disebut sebagai Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) yang dilakukan di akhir tahun. Dalam RUPS PT Kuliner yang dominan adalah Andi dan Bobi sebagai pemegang saham mayoritas. Sementara Cecep yang cuma punya saham 9% (dan cliff period) tidak punya pengaruh dalam pengambilan keputusan bila akhirnya dilakukan voting karena perbedaan pendapat.

Dari hasil keputusan RPUS PT Kuliner, maka disepakati modal kerja restoran tahun ke-2 adalah Rp 250 juta dan Rp 250 juta sisanya akan dibagikan sebagai dividen atau bagi hasil usaha kepada para pemegang saham. Pembagiannya adalah:

  • Andi: 45,5% x Rp 250 juta = Rp 113.750.000
  • Bobi: 45,5% x Rp 250 juta = Rp 113.750.000
  • Cecep: 9% x Rp 250 juta = Rp 22.500.000

Namun karena Cecep masih dalam cliff period, maka ia tidak mendapatkan dividen ini. Dividen akan disimpan oleh perusahaan dan baru akan dicairkan pada akhir cliff period yakni bulan ke-6 di tahun ke-2. Kalau ternyata Cecep tidak lulus cliff period, maka selain kehilangan saham, dividen Rp 22.500.000 tersebut akan menjadi milik Andi dan Bobi.

MASUKNYA INVESTOR

Keberhasilan restoran di tahun ke-1 membuat ABC (Andi, Bobi, Cecep… supaya singkat) ingin melakukan ekspansi membuka cabang baru di mal. Setelah dihitung-hitung modal membuka cabang di mal butuh biaya Rp 1 miliar. Mereka tak punya uang.

Maka mereka mendatangi Dadang, kawan mereka yang pengusaha sukses, dan menawarkan investasi ke restoran agar bisa ekspansi ke mal.

Tawaran ABC kepada Dadang adalah investasi Rp 1 miliar untuk 25% saham.

Dadang bertanya, “Kalau saya invest Rp 1 miliar untuk 25% saham, maka nilai per lembar sahamnya berapa?”

Sebelum datang ke Dadang, ABC lebih dulu membuat rencana kerja usaha sampai 5 tahun ke depan berdasarkan masuknya modal kerja baru atau investasi senilai Rp 1 miliar. Cash flow dan laba perusahaan bermodal Rp 1 milair tentu beda dengan yang bermodal Rp 100 (modal tahun pertama). Karena itu ABC harus kembali menghitung nilai usaha yang baru berdasarkan target cash flow atau laba dengan modal kerja Rp 1 miliar. Dengan kalkulator nilai usaha Arkademi, mereka mendapati nilai usaha mereka yang baru (dengan modal Rp 1 miliar) adalah Rp 10 miliar.

Bila yang diminta adalah 25% saham, maka akan diterbitkan saham baru untuk Dadang. Yakni 25% dari jumlah saham eksisting 110 lembar: 28 lembar saham baru. Hingga total lembar saham bila Dadang masuk adalah 138 lembar.

Dengan nilai usaha Rp 10 miliar, maka nilai per lembar saham adalah Rp 10 miliar dibagi 138 lembar sama dengan Rp 72.463.768/lembar. Karena Dadang memiliki 28 lembar saham, maka kekayaannya adalah Rp 72.463.768 kali 28 sama dengan Rp 2.028.985.507.

Masuknya Dadang dan penerbitan 28 lembar saham baru membuat komposisi kepemilikan usaha berubah lagi. Karena jumlah lembar saham sudah naik dari 110 lembar menjadi 138. Inilah komposisi saham yang baru:

  • Andi: 50 lembar (50/138) = 36%
  • Bobi: 50 lembar (50/138) = 36%
  • Cecep: 10 lembar (10/138) = 7%
  • Dadang: 28 lembar (28/138) =20%

Prosentase kepemilikan ABC dalam perusahaan memang menurun karena masuknya Dadang sebagai pemegang saham baru atau pihak yang ikut memiliki perusahaan. Namun jumlah lembar saham mereka tetap dan nilai per lembar saham naik. Yang awalnya adalah Rp 9 juta/lembar saham melompat ke Rp 72.463.768/lembar saham. Untuk Andi yang memegang 50 lembar saham yang awalnya bernilai Rp 450 juta, kini nilai sahamnya menjadi Rp 3.623.188.400.

Ketentuan vesting period juga dikenakan kepada Dadang sebagai investor di masa awal (early investor). Ia tak boleh mentransfer atau menjual sahamnya kepada orang lain dalam masa 3 tahun untuk menjaga psikologi kelompok.

KELUARNYA BOBI

Di tahun ke-3 Bobi memutuskan keluar dari kepemilikan usaha karena ia harus pindah ke luar negeri. Ia ingin mencairkan sahamnya ke dalam bentuk uang dengan cara menjual saham tersebut ke pihak lain. Namun Bobi baru menjalani masa vesting 2 tahun. Harusnya ia baru bisa mencairkan sahamnya setelah tahun ke-3 selesai.

Bila ini terjadi, maka Bobi hanya berhak mendapatkan jumlah saham sesuai masa vesting. Yakni 2 tahun per 3 tahun atau 2/3. Dengan 50 lembar saham yang dimilikinya, maka ia hanya memiliki 2/3 dari 50 lembar saham untuk dicairkan atau 33 lembar. 33 lembar saham inilah yang akan ia jual kepada pihak lain. Kebetulan ada teman Bobi bernama Eko yang ingin membeli.

Harga akhir jual-beli saham itu ditentukan kesepakatan antara Bobi dan Eko. Tapi Bobi punya acuan Rp 72.463.768 sebagai nilai per lembar saham yang ditentukan pada tahun ke-2 ketika Dadang masuk. Kalau harga itu diterima Eko, maka Bobi mendapatkan uang 33 x Rp 72.463.768 atau Rp 2.391.304.344. Atau naik 24x lipat bila dibandingkan modal awalnya di tahun ke-1 Rp 100 juta.

Ketika Eko setuju membeli 33 lembar saham dari Bobi, maka Eko tidak terkena masa vesting karena ia membeli saham lama dan bukan masuk sebagai investor baru.

Dengan terbelinya 33 lembar saham, maka timbul 2 akibat. Pertama, 17 lembar saham ‘tak bertuan’ sisa Bobi. Kedua, komposisi prosentase baru kepemilikan usaha dengan masuknya Eko dengan 33 lembar saham.

Saham ‘tak bertuan’ sisa Bobi secara otomatis menjadi milik perusahaan, bukan milik pemegang saham lain. Tapi nasib saham ini akan ditentukan oleh pemegang saham lain melalui RUPS akan dikonversi menjadi apa.

Sisa saham Bobi bisa dikonversi menjadi berbagai jenis saham. Misalnya ditawarkan kepada pemegang saham lain (Andi, Cecep, Dadang, Eko) atau pihak lain yang hasil penjualannya dimasukkan ke dalam kas perusahaan. Bisa juga dialokasikan sebagai saham untuk para karyawan (employee stock ownership plan, ESOP). Atau Bisa juga dijadikan Saham Kosong.

Saham Kosong adalah saham tanpa nama namun manfaat atas saham itu tetap bisa diambil. Melalui RUPS, para pemegang saham bisa memutuskan untuk siapa saham itu dialokasikan. Misalnya untuk bonus kepada karyawan atau manajemen. Jenis saham ini berbeda dengan ESOP. Saham kosong sebagai saham tak bernama segala manfaatnya diterima sebagai pemberian dan tak mengikat.

Bila sisa saham ditentukan sebagai saham kosong, maka berikut ini adalah komposisi kepemilikan yang baru:

  • Andi: 50 lembar (50/138) = 36%
  • Cecep: 10 lembar (10/138) = 7%
  • Dadang: 28 lembar (28/138) =20%
  • Eko: 33 lembar (33/138) = 24%
  • Saham kosong: 17 lembar = 13%

EXIT BERSAMA-SAMA

Di tahun ke-4, seorang pengusaha besar restoran bernama Fadli menyatakan minatnya membeli restoran PT Kuliner. Karena masa vesting 3 tahun sudah selesai, maka masing-masing pemegang saham bebas menjual saham mereka. ACDE (Andi, Cecep, Dadang, Eko) tidak keberatan menjual saham mereka secara bersama-sama bila harga dari Fadli cocok. Likuidasi saham ke dalam bentuk uang biasa disebut sebagai exit.

Berdasarkan valuasi ketika Dadang masuk, nilai PT Kuliner adalah Rp 10 miliar. Itulah harga acuan yang bisa mereka gunakan dalam tawar-menawar dengan Fadli. Akhirnya mereka sepakat di harga akuisisi perusahaan Rp 9 miliar.

Rp 9 miliar ini akan dibagi berdasarkan prosentase masing-masing pemegang saham sebagai berikut.

  • Andi: 36% = Rp 3.240.000.000
  • Cecep: 7% = Rp 630.000.000
  • Dadang: 20% = Rp 1.800.000.000
  • Eko: 24% = Rp 2.160.000.000
  • Saham kosong: 13% = Rp 1.170.000.000

Dari angka-angka likuidasi atau penjualan saham tersebut bisa dilihat Eko justru rugi. Ia membeli saham dari Bobi Rp 2,3 miliar, tapi saat dijual ke Fadli hanya Rp 2,1 miliar. Ini karena Eko sebelumnya membeli saham Bobi dengan harga acuan valuasi Rp 10 miliar, sedangkan Fadli ada di harga valuasi Rp 9 miliar. Selain itu Eko membeli ketika valuasi PT Kuliner sudah naik, namun menjual kembali ketika valuasi belum naik. Dengan demikian maka menjadi hak Eko untuk menjual sahamnya kepada Fadli atau tidak. Atau bisa juga ia menjual sebagian saja dan masih memiliki saham di PT Kuliner yang sudah dikuasai Fadli. Karena dengan masuknya Fadli yang pengusaha besar, tentu akan ada penyertaan modal baru dari Fadli yang jumlahnya besar dan akan menaikkan valuasi usaha.

Sedangkan saham kosong senilai Rp 1,17 miliar ditentukan alokasinya oleh RUPS (Andi, Cecep, Dadang, Eko). Bisa dibagikan kepada karyawan dan manajemen, bisa dibagikan kepada para pemegang saham sesuai prosentase, atau bisa juga keduanya.

Dengan demikian, penambahan kekayaan para pemegang saham berasal dividen atau pembagian sisa laba usaha tiap akhir tahun, dan penjualan sahamnya kepada pihak lain. Khususnya untuk founder dan co-founder, selain menjadi pemegang saham mereka juga menjadi pihak yang menjalankan perusahaan. Misalnya sebagai chief. Artinya, mereka juga berhak atas upah rutin sebagai karyawan dan bonus karyawan yang dialokasikan dari saham kosong atau dari alokasi laba akhir tahun yang ditentukan RUPS.

3-5 TAHUN MASA RAWAN

Visi terkuat sebuah perusahaan dimiliki oleh para foundernya. Karena merekalah yang melahirkan dan membangun usaha dari nol. Mereka berjuang dengan tekun memproyeksikan serta menjalankan usaha dengan pada sebuah visi masa depan. Masa-masa paling rentan sebuah usaha ada di rentang 5 tahun pertama.

Pada masa-masa rentan ini para founder sebaiknya memiliki kontrol kuat untuk menentukan nasib perusahaannya sesuai visi awal. Kontrol itu hanya bisa ditercapai apabila para founder memegang saham dengan prosentase mayoritas, atau minimal 51% secara gabungan. Karena dalam perusahaan RUPS menjadi penentu arah dan kebijakan besar. Bila terjadi perbedaan pendapat antara pemegang saham dan dilakukan voting, maka yang menang adalah pendapat yang didukung oleh pemegang saham terbanyak.

Bila di masa-masa awal saham para founder sudah menyusut di bawah 50% dan sisanya dikuasai investor, maka apapun bisa terjadi. Misalnya investor memutuskan mengganti seluruh jajaran manajemen, menghapus vesting dan menjual sahamnya, atau bahkan menjual dan menutup perusahaan. Tak ada yang bisa dilakukan founder karena mereka kalah dalam pengambilan suara.

Tahun 2006 Yahoo menawar Facebook $ 1,6 miliar. Pada 2010 Microsoft menaikkan tawaran menjadi $ 24. Semuanya dijawab ‘Tidak’ oleh Mark Zuckerberg. Hal ini bisa terjadi karena Mark menjaga kepemilikan sahamnya tetap mayoritas. Meski saat itu hampir semua investor, co-founder, manajemen, dan karyawan ingin Facebook dijual. Mark tetap bilang ‘Tidak’ dan karenanya ia dimusuhi beramai-ramai. 2012 Facebook exit lewat IPO (menjual saham di bursa) dengan valuasi $ 104 miliar. Saat ini valuasi Facebook mencapai $ 506 miliar. Kita akan melihat hal yang berbeda dari Facebook hari ini apabila dulu Mark tidak memiliki visi yang kuat dan menjaga komposisi sahamnya. (*)

36 komentar untuk "Cara Menghitung Pembagian Saham Usaha"

  1. Mantap.. terimakasih gambarannya sangat jelas dan mudah di fahami.

  2. aku masih bingung cara menentukan lembar saham dan cara nambah lembar-lembar saham baru
    bagaimana penjelasannya ya?

    • Saham adalah bukti kepemilikan seseorang pada sebuah perusahaan. Saham diterbitkan oleh perusahaan (PT). Bukti otentik saham adalah penyebutan di dalam akta perusahaan dan surat/sertifikat saham atau surat keterangan saham yang diterbitkan oleh perusahaan yang ditandatangani oleh Direktur Utama, Komisaris Utama, dan Sekretaris Perusahaan (bila ada). Masing-masing pemegang saham mendapatkan surat atau sertifikat saham tersebut.

      Penentuan nilai per lembar saham terserah dari pemilik perusahaan atau para pemegang saham. Misalnya 1 lembar seharga Rp 1 miliar pun gak apa2. Tapi karena saham itu bisa ditransfer ke orang lain atau diperjual belikan seluruhnya atau sebagian, maka sebaiknya saham itu dipecah ke nominal kecil. Misalnya Rp 100.000/lembar saham. Jadi, dengan setoran modal Rp 1 miliar, pemegang saham tersebut mendapatkan 10.000 lembar saham (Rp 1 miliar/Rp100.000).

      Dengan nominal kecil seperti ini kita bisa menjual saham itu (kelak) kepada orang lain misalnya 1.000 lembar, 5.000 lembar, dst.

      Menambah saham baru berarti menerbitkan saham baru (right issue). Keputusan atas penerbitan saham baru ini ada di Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Para pemegang harus sepakat menerbitkan saham baru berapa lembar, berapa harga per lembarnya (masih sama dengan harga lama atau harga baru), dan akan ditawarkan kepada siapa. Yang membeli saham baru tersebut bisa pemegang saham eksisting, bisa juga pemodal baru dari luar. Hasil yang didapatkan dari penjualan saham baru tersebut menjadi modal tambahan bagi perusahaan.

  3. Pak Hilman saya ada contoh kasus seperti ini: saya memiliki ruko seharga 1,5 milyar. Saya mau buka usaha dgn modal 500 jt. Rencananya ruko tsb akan saya masukkan sebagai aset perusahaan. Total modal perusahaan sebesar 2 milyar. Setelah saya hitung rencana kerja (nilai minimal) untuk 5 th kedepan ternyata nilai usaha saat ini hanya sebesar 1,5 milyar dan nilai untuk 5 th yg akan datang sebesar 4,5 milyar. Untuk saat ini nilai usaha lebih rendah dari nilai modal yg dikeluarkan.
    Pertanyaannya:
    1. Apakah idealnya nilai usaha harus lebih besar dari modal yg dikeluarkan?
    2. Manakah yg menjadi acuan untuk pembagian sahamnya, nilai usaha atau modal yg dikeluarkan?
    3. Berdasarkan contoh tsb apakah usaha ini tidak layak dijalankan?

    Terima kasih

    • Tambahan pertanyaan: Apakah sebaiknya nilai properti tidak dimasukkan sebagai modal usaha?

    • Sederhananya, di masa awal nilai usaha adalah modal dasar. Kalau pernah mendirikan PT pasti tahu soal modal dasar.

      Masalahnya, dalam menghitung modal dasar pelaku usaha biasanya hanya memasukkan aset tampak (tangible). Seperti properti atau alat produksi. Hanya itu yang mereka sebut ‘modal’. Tapi tidak dengan aset tak tampak (intangible) yang biasanya melekat pada diri founder atau co-founder untuk mengutilisasi tangible asset menjadi bernilai.

      Karena itu contoh penentuan modal dasar yang dibentuk dari tangible dan intangible asset adalah usaha restoran. Dimana aset tangible dan intangible sama-sama diberi nilai. Dengan model ini, maka otomatis nilai usaha akan lebih besar dari tangible asset.

      Tapi jangan salah paham bahwa intangible asset itu tak termasuk modal disetor atau modal ditempatkan. Karena ia juga modal. Tapi harus diakui dulu oleh pemodal lain bahwa intangible asset itu juga bernilai tunai sebesar harga saham. Sehingga dalam pengaktaan pemilik intangible asset dianggap sudah menyetorkan modal senilai tunai (meski sebenarnya tidak). Dalam pembukuan keuangan, intangible asset tercatat dalam aktiva tetap tak berwujud. Sementara uang yang disetorkan oleh pemodal lain tercatat sebagai ekuitas modal saham.

      Jadi, bila ada pemodalan dari intangible asset, masukkan saja dalam pemodalan. Kalau tidak ada, maka modal dasar sama dengan nilai tangible asset.

      Perseroan kita tidak kenal dengan ‘nilai usaha’. Yang ada adalah modal dasar, modal ditempatkan, dan modal disetor. Jadi pembagian saham tetap menggunakan modal dasar — yang dibentuk dari tangible dan intangible asset.

  4. Mohon petunjuknya, saya berencana mendirikan startup digital di bidang socialmedia, saya mendirikan PT bersama teman saya dimna di akta perusahaan itu komposisinya saya 90% dan teman saya 10%, utk awal hanya saya dan teman saya merintis usaha ini dan sistemnya kami buat otomatis, utk recruitment staf blum bisa dilakukan krna modal awal saya dan teman hanya sewa server, utk marketing kami masih bersifat mulut kemulut jdi capex utk marketing blum signifikan atau diperlukan,

    Pendapatan yg kami planning itu berasal dari iklan yg akan kami tayangkan di platform kami, bagimana menilai valuasi perusahaan kami utk 5 tahun, krna nnti tahun ke 6 baru kami ajukan penmbahan investor?

    Kemudian di tahun ke 10 rencana kami akan IPO di Indonesia dan Amerika tapi saya masih tdk tahu bagaimna caranya supaya bisa IPO di Indonesia dan Amerika, mohon penjelasannya?

    • Ada banyak cara menghitung valuasi, salah satunya metode DPV dan DCF yang digunakan pada kalkulator nilai usaha yang disediakan Arkademi. Bila ingin menghitung valuasi 5 tahun ke depan silakan gunakan kalkulator tersebut.

      Tapi dalam prakteknya, nilai usaha dilakukan dengan model pricing atau tawar-menawar dengan investor. Karena nilai usaha menentukan harga saham per lembar. Bila funding (mencari investor) baru akan dilakukan di tahun ke-6, maka tidak perlu merisaukan soal nilai usaha/valuasi pada saat ini. Apalagi perusahaan juga belum terbentuk.

      IPO itu tidak sederhana. Banyak tahapan, proses, dan syaratnya. Syarat IPO di tiap bursa negara berbeda antara satu dan lainnya. Jadi bila saat ini masih baru tahap rencana mendirikan startup, saya pikir terlalu jauh untuk memikirkan cara IPO.

  5. Saya mau tanya untuk kasus di atas. Andi kan tidak punya uang, kemudian dia mengajak Bobi untuk invest. Apakah nanti Andi dapat gaji juga yg dpt digunakan untuk biaya kehidupannya sehari-hari dari uang yg diinvest si Bobi atau dia hanya dapat bagi hasil saja.

    Maaf saya masih baru dan banyak belum paham masalah bagi hasil dll. Soalnya klo dia tidak dpt gaji dan cuma dpt bagi hasil yg mana hanya dpt dibagikan kalau sdh pada waktunya saja, bagaimana si Andi membiayai kehidupannya sehari-hari.

    • Salah satu tugas rapat umum pemegang saham (RUPS) adalah menentukan besaran gaji pengurus (direksi) dan pengawas (komisaris). Kalau si Andi ditunjuk menjadi pengurus (direksi), maka RUPS akan membahas dan memutuskan besaran gaji bulanan Andi.

      Bagi hasil adalah hak pemilik saham yang timbul dari dividen. Terlepas apakah ia menjadi pengurus/pengawas atau tidak. Karena Andi adalah (salah satu) pemilik saham, maka dia berhak atas dividen seperti juga pemilik saham lainnya. Karena Andi adalah pengurus, maka dia juga berhak atas gaji bulanan yang besarannya ditentukan oleh RUPS (seluruh pemegang saham).

  6. Saya mau tanya pak.
    Jika perusahaan yang kita bangun tiba2 bangkrut, bagaimana nasib modal investor yg sdh tertanam tadi di perusahaan yg kita bangun.
    Apakah kita mengembalikanya kepada investor? Sementara perusahaanya bangkrut alias sdh tidak ada lagi kas nya.
    terimakasih

    • Halo Pak Wan Dedi,
      Bila sebuah perusahaan bangkrut/pailit, maka segala kekayaan perusahaan tersebut akan dikembalikan ke para pemegang saham sesuai besaran saham yang mereka miliki dalam perusahaan tersebut. Kekayaan ini antara lain adalah kas, aset, piutang, dll.

      Anggap saja yang tersisa hanya aset barang berupa 1 mobil. Maka mobil ini dijual. Misal laku Rp 100 juta. Si investor tadi misal memiliki 50% saham. Maka ia berhak sebesar Rp 50 juta.

  7. Ini lagi yg saya bingung pak.
    prosentase kepemilikan Andi menjadi 45,5% (50/110), Bobi 45,5% (50/110), Cecep 9% (9/110).

    Seharusnya kan 45%. Itu cara mendapatkan 45,5% itu gmn cara nya pak.apakah ada rumusnya?darimana dapatnya koma 5 itu?trmksh

    • 50 lembar saham Andi (atau Bobi) dibagi 110 total lembar saham. Hasilnya 0,454545. Dalam persen 45,5%.

      Sebenarnya dividen tidak dibagi berdasarkan persenan. Tapi per lembar saham. Misalnya ada dividen Rp 1 miliar yang akan dibagi dan total saham ada 110 lembar. Maka per lembar saham akan mendapat dividen Rp 1 miliar/110 lembar = Rp 9.090.909/lembar saham. Karena Andi punya 50 lembar saham, maka total dividen yang ia terima adalah 50 lembar saham x Rp 9.090.909 = Rp 454.545.454.

      Orang biasa menggunakan prosentase untuk menunjukkan seberapa besar kepemilikannya dalam sebuah perusahaan — yang lebih mudah disampaikan dalam bentuk persen.

    • Maaf sedikit melenceng pak. Kasus semacam di atas korelasinya dengan jurusan kuliah cenderung ke fakultas hukum atau fakultas ekonomi ya pak?
      Mohon jawabannya, Terimakasih

  8. Saya mau tanya pak
    bank A melepas ke bursa saham 2miliyar lembar dengan harga 500 rupiah
    Pertanyaan saya
    1.kok bisa bank A ini bisa lepas lembar saham sampai 2miliyar ?
    2.cara menentukan harga saham bagai mana?
    3.bank A Berani melepas 2milyar lembar terus presantase 2 miliyar itu berapa persen saham?

    • 1. Tidak masalah saham jadi hingga miliaran lembar. Hal ini biasa dilakukan oleh perusahaan yang sudah go public. Istilahnya stock split. Memecah nominal saham ke nilai yang lebih kecil. Misalnya sebelum go public harga Rp 100.000/lembar. Setelah go public stock split ke Rp 100/lembar. Maka bila sebelum go public misal kita punya 1 lembar saham, setelah stock split kita punya 1.000 lembar saham.

      Stock split dilakukan agar harga saham lebih terjangkau oleh masyakarat umum (pembeli) ketika go public. Karena di pasar modal saham tidak dijual per lembar, tapi per lot. Di bursa efek Indonesia (BEI) 1 lot = 100 lembar. Jadi kalau harga per saham Rp 500/lembar dan pembelian di BEI minimal 1 lot, maka pembeli akan membayar Rp 500 ribu dan mendapatkan 100 lembar saham (1 lot).

      2. Secara normatif, harga per lembar saham selalu ditentukan dari jumlah modal dasar dibagi jumlah saham yang diterbitkan. Dua komponen ini tercatat dalam akta perusahaan. Misal dalam akta disebutkan modal perusahaan tersebut Rp 1 triliun dan jumlah saham diterbitkan 1.000 lembar. Maka harga sahamnya Rp 1 miliar/lembar.

      Untuk perusahaan yang berencana go public, salah satu syaratnya harus diperiksa dulu oleh appraisal independen, akuntan publik, dan punya penjamin emisi efek. Jadi ketika IPO atau pelepasan saham perdana ke publik lewat bursa efek, nilai sahamnya sudah benar. Tidak direkayasa.

      Bila sudah go public maka nilai saham ditentukan oleh harga pasar. Bisa naik-turun berdasarkan penawaran dan permintaan di bursa efek.

      3. Syarat dari BEI, jumlah saham yang ditawarkan ke publik tergantung dari ekuitas perusahaan tersebut. Misal untuk perusahaan dengan ekuitas di bawah Rp 500 miliar, maka saham yang ditawarkan adalah 20%. Kalau di atas Rp 1 triliun 10%.

      Selengkapnya bisa dibaca di: https://gopublic.idx.co.id/2016/06/22/persyaratan

  9. Terima kasih dan luar biasa untuk pak Hilman & Team, semoga selalu diberikan kesehatan yg prima untuk terus berkarya dan berbagi ilmu, pengetahuan, serta pengalaman yg sangat membantu kami, memberikan pemahaman sehubungan dengan proses kami belajar menjadi pengusaha.
    Sebagai Startup kami sangat terbantu sebagai guide line kami untuk memulai menjalankan usaha kami.

  10. Terima kasih untuk sharing nya tim arkademi,

    Diatas kan nilai saham yang dipake adalah valuasi dari hitungan nilai usaha (terserah kalkulatornya pake apa)

    Nah dimana kita mencatat untuk valuasi yang sudah kita hitung sendiri itu ?

    Karena kan di indonesia, akta nya cuman mengetahui valuasi cuman berdasarkan modal dasar saja (tangible)

    Tapi saya baca dari beberapa komentar yang dijawab pak hilman, dimana nanti perusahaan bisa menerbitkan surat/sertifikat saham. Nah apakah disana kita bikin nilai valuasi kita sendiri itu ?

    Terima kasih 🙂

    • Benar bahwa dalam akta pendirian perseroan (dan akta perubahannya) nilai saham, modal dasar, modal ditempatkan, dan modal disetor seluruhnya menggunakan monetary value (nilai uang). Karena semua komponen ini adalah kekayaan perusahaan, dan kekayaan itu harus monetary value.

      Regulasi perseroan di Indonesia sudah mengenal aset tidak berwujud (intangible asset) dan diakui dalam akta pendirian perusahaan. Namun harus ada surat pernyataan tambahan dari para pemegang saham lain (pada saat pendirian) yang mengakui intangible asset tersebut dalam monetary value.

      Misal modal bapak adalah intangible asset dan modal rekan bapak tangible asset. Maka, ada surat tambahan di luar akta dimana teman bapak mengakui bahwa intangible asset milik bapak diakui dalam sejumlah uang yang disepakati bersama. Dalam pencatatan keuangan, intangible asset itu dicatat sebagai aktiva tetap tak berwujud.

      Di PT Arkademi Daya Indonesia saham saya seluruhnya berasal dari intangible asset, porsinya mayoritas, dan merupakan saham kategori yang memberikan hak-hak istimewa sebagai founder.

  11. Dear Arkademi dan Pak Hilman Fajrian,

    Terima kasih mengenai ulasan tentang cara menghitung pembagian usaha. Sangat membantu. Mohon bantuan tuntunannya lebih lanjut yang khususnya berhubungan dengan peraturan yang berlaku yang seperti di ulasan bahwa perseroan tidak mengenal nilai usaha. Saat ini saya sedang dalam proses pendirian PT kelas kecil dan menemukan bahwa nilai usaha di dasarkan pada modal dasar. Kondisinya adalah:
    1. Nilai usaha saat ini di taksir adalah 500jt
    2. Saya berkontribusi dalam intagible assets dengan kepemilikan 80% dan saudara dalam tangible assets berbentuk cash sebesar 20% dari nilai usaha yaitu 100jt. Rencana penerbitan lembar saham adalah 1000. Dalam hal ini, 1 lembar saham bernilai 500rb. Bagaimana penentuan modal dasar, di tempatkan, dan setor sehingga di akta perusahaan bisa sesuai dengan nilai usaha tersebut?
    3. Menyambung di nomor 2, saya mendapati bahwa modal di setor minimal 25% dari modal dasar, sehingga jika di dalam modal dasar tercantum 500jt, apakah yang di setorkan harus setor 125jt?
    4. Masih berkaitan dengan nomor 2 dan 3, di draft akta yang di tulis oleh notaris, di cantumkan bahwa jika yang di setor adalah 100jt, pembagian 80% dan 20% di hitung dari modal setor tersebut yaitu 80jt dan 20jt, yang berarti 1 lembar saham bernilai 100rb dan bukan 500rb. Dalam kata lain, tidak sesuai dalam nilai usaha, bagaimana mengatasi hal ini?
    5. Jika dalam tahun depan kami berencana untuk capital raise, sebagai contoh 1M untuk saham sebesar 20%, artinya valuasi perusahaan adalah 5M. Jika modal dasar tercantum awal 500jt, perubahan apa sajakah yang di haruskan supaya nilai usaha dan nilai modal dasar sama?
    Terima kasih atas kesempatannya untuk keterbukaan di kolom komentar sehingga saya bisa mengajukan pertanyaan.

    • 1. OKE. Berarti modal dasar Rp 500 juta. Untuk awalan ini akan menjadi nilai usaha.

      2. Modal dasar Rp 500 juta diterbitkan 1.000 lembar saham. Artinya harga saham adalah Rp 500.000/lembar.

      Modal dasar: nilai awal perusahaan. Rp 500 juta tadi.

      Modal ditempatkan: nila total saham yang sudah dialokasikan atau diambil oleh pemegang saham. Misal modal anda intangible asset sejumlah total Rp 400 juta, maka 800 lembar itu otomatis sudah terambil oleh anda (karena tak perlu menyetor uang). Teman anda yang kontribusi modal tangible asset berupa tunai Rp 100 juta, maka 200 lembar saham disishkan untuk dia (jatahnya).

      Modal disetor: Karena anda intangible asset, maka tak perlu disetor. Hanya perlu diakui oleh pendiri yang lain (dalam hal ini teman mas). Sedangkan kalau teman anda sudah menyetor Rp 100 juta tadi, maka dicatat sebagai modal disetor. Kalau belum setor, maka tidak bisa dicatat sebagai modal disetor dan saham belum bisa diberikan (portopel atau menjadi modal dicadangkan).

      Artinya, bahkan ketika teman anda belum menyetor sama sekali, modal dasar, modal ditempatkan, dan modal disetor sudah senilai Rp 400 juta (80%) yang berasal dari intangible anda.

      Dalam pendirian perusahaan tidak diwajibkan menyerahkan bukti setoran bank atas modal. Hanya surat pernyataan dari pada pendiri saja bahwa sudah atau belum menyetorkan modal. Surat ini dibuat di hadapan notaris.

      Beda lagi dengan akta perubahan yang mencantumkan perubahan modal. Wajib ada bukti setor bank (ada hubungannya dengan penjelasan no 5).

      3. Betul modal disetor minimal 25%. Dari penjelasan nomor 2 diketahui bahwa anda sudah menyetorkan modal 80% dalam bentuk intangible. Kalau teman anda sudah setor Rp 100 juta juga, maka modal disetor menjadi 100%.

      4. Sudah terjawab.

      5. Kalau tahun depan ingin menerbitkan saham baru sejumlah 20%, maka saham baru yang terbit adalah 20% x 1.000 (eksisting) = 200 lembar saham baru. Sehingga total saham yang beredar menjadi 1.000 + 200 = 1.200 lembar saham.

      Bila 200 lembar saham baru tersebut dibeli senilai Rp 1 miliar, maka nilai per lembar sahamnya adalah Rp 5 juta/lembar.

      Berarti ada selisih harga saham lama dan harga saham baru. Saham lama Rp 500.000/lembar. Saham baru Rp 5 juta/lembar. Terdapat selisih Rp 4,5 juta/lembar pada 200 saham baru atau total Rp 900 juta. Selisih ini dinamakan AGIO SAHAM. Dari agio inilah sebenarnya para pemegang saham mendapatkan capital gain (kenaikan nilai pasar, dijelaskan di bawah).

      Lalu harga mana yang akan digunakan di akta perubahan? Harga lama atau harga baru? Atau keduanya?

      Sebelum kita bahas harga saham baru, modal dasar, modal ditempatkan, dan modal disetor pada akta perubahan, kita harus mengetahui pencatatan perubahan modal ini lebih dulu dalam standar akuntansi. Karena modal dasar dll dalam akta itu mengacu pada akuntansi perusahaan. Bukan sebaliknya.

      Pembukuannya seperti ini:

      MODAL SEBELUMNYA:
      Rp 500 juta

      MODAL TAMBAHAN
      Rp 500 ribu (harga lama) x 200 lembar saham baru =
      Rp 100 juta
      * di bawah akan dijelaskan alasannya

      TOTAL MODAL TERBARU (MODAL SAHAM)
      Modal sebelumnya + modal tambahan =
      Rp 500 juta + 100 juta =
      Rp 600 juta

      AGIO SAHAM
      Jumlah saham baru x selisih harga saham baru dan saham lama =
      200 lembar x Rp 4,5 juta =
      Rp 900 juta

      EKUITAS
      Total modal + Agio saham =
      Rp 600 juta + Rp 900 juta =
      Rp 1,5 miliar

      Nah, pas kan uangnya?

      Nilai pada ekuitas Rp 1,5 miliar adalah MODAL DISETOR dan dicatatkan akta perubahan. Sekaligus menjadi MODAL DASAR dan MODAL DITEMPATKAN.

      Dengan modal disetor Rp 1,5 miliar dan beredar 1.200 saham, maka per lembar saham yang dicatatkan/diubah dalam akta menjadi Rp 1.250.000/lembar. Artinya, kekayaan anda dan teman naik dari Rp 500.000/lembar menjadi Rp 1.250.000/lembar secara NILAI BUKU.

      Karena perubahan modal pada akta perubahan harus melampirkan bukti setor (untuk pengesahan KemenkumHAM), maka tidak akan ada masalah. Uangnya ada, riil, dan sama dengan yang tercatat dalam akta sebagai Modal Disetor.

      NILAI BUKU vs NILAI PASAR

      Pasti ada pertanyaan begini:
      Kenapa nilai saham di akta bukan naik menjadi Rp 5 juta per lembar? Kalau cuma dicatatkan Rp 1,25 juta (bukan Rp 5 juta) berarti investor baru rugi dong?

      Nah, harus dibedakan antara nilai buku dan nilai pasar pada saham. Nilai buku itu harus riil. Kalau cuma punya kekayaan atau ekuitas Rp 1,5 miliar, ya itulah yang dicatat. Nilai buku itulah yang membuat mengapa MODAL TAMBAHAN di atas tetap mengacu pada harga saham lama yakni Rp 500.000/lembar bukannya Rp 5 juta/lembar. Karena dalam akta pendirian harga sahamnya Rp 500.000, bukan Rp 5 juta. Perubahan dari Rp 500 ribu ke Rp 1,25 juta itu baru terjadi setelah modal baru masuk dan disahkan ke dalam akta perubahan.

      Kenapa orang mau membeli ‘barang’ yang ‘harga banderolnya’ Rp 500 ribu seharga Rp 5 juta? Karena harga atau nilai pasar.

      Karena si investor yakin kelak perusahaan anda bisa memberikan dividen yang menarik atau kenaikan nilai pasar (capital gain) di masa depan sehingga berani bayar harga lebih tinggi dari harga banderol (harga lama).

      Nilai pasar inilah yang banyak disebut orang sebagai VALUASI. Nilai adalah harga yang bisa diterima oleh pembeli (investor). Jadi, bila anda berhasil menjual 200 lembar saham senilai Rp 1 miliar, maka NILAI PASAR perusahaan anda adalah Rp 5 juta x 1.200 (total saham beredar) = Rp 6 miliar.

      Modal dasar, modal ditempatkan, modal disetor dll itu adalah angka-angka pembukuan/akuntansi. Tidak masalah nilainya cuma Rp 1,5 miliar. Tapi nilai pasar Rp 6 miliar. Kalau besoknya anda jual saham milik sendiri ke orang lain (cash out), ya pakai harga acuan minimal Rp 5 juta/lembar itu. Seperti orang mau jual rumah; pakai harga pasar, bukan pakai harga beli atau NJOP.

      Contoh riilnya ada di bursa saham. Harga saham para perusahaan Tbk di sana naik-turun setiap hari. Harga saham di bursa adalah harga pasar. Mau naik atau turun di bursa tetap tidak mengubah nilai buku yang tercatat dalam akta perusahaan Tbk tersebut dalam akta mereka. Dan pastinya nilai pasar harga saham perusahaan Tbk di bursa lebih tinggi dibanding harga saham dalam akta mereka. Tapi, bila ditanya berapa valuasi perusahaan Tbk tersebut menghitungnya dari harga saham di bursa dikali jumlah saham beredar/terbit. Bukan pakai modal dasar lagi.

      Begit pula bila kita dengar Go-jek, Tokopedia, Traveloka, Bukalapak dll valuasinya triliunan. Itu nilai pasar. Harga yang diterima oleh investor terbaru dikali jumlah saham beredar. Bukan modal dasar, ditempatkan, atau disetor dalam akta mereka.

      Semoga membantu.

  12. Dear Pak Hilman Fajrian dan Arkademi.com,

    Terima kasih banyak atas ulasannya secara menyeluruh & detail. Dengan ulasan ini, saya bisa menggunakannya untuk keperluan pendirian perseroan dan bisa menggunakannya untuk komunikasi kepada shareholder. Saya pribadi merasa sangat terbantu dengan sharingnya ini dan akan menjadikan Arkademi.com sebagai kombinasi support dalam menjalankan bisnis ini. Sukses selalu untuk Pak Hilman Fajrian dan Arkademi.com.

  13. Selamat sore, Pak Hilman.

    Bagaimana menghitung nilai konsep dan biaya (kontribusi) untuk diikutsertakan dalam jumlah modal?

    Ilustrasi:

    A investasi sebesar 50jt, B investasi sebesar 50jt. Sementara C adalah founder, konseptor dan lainnya, namun ia tidak memiliki modal berbentuk fresh money.

    Bagaimana menghitung nilai konsep dan seluruh pengeluaran biaya si C untuk dihitung dalam modal?

    terima kasih.

    • Negosiasi.

      Perusahaan itu tidak didirikan hanya bermodalkan aset tampak (tangible) seperti uang, tanah, barang, atau mesin. Tapi juga aset tidak tampak (intangible). Si founder modalnya kan intangible. Maka berapa intangible asset si founder ini?

      Maka rekanan bisnis si founder (investor) akan melakukan penaksiran dan si founder melakukan penawaran. Misal si founder bilang intangible asset dia Rp 100 juta. Ya akhirnya akan kembali pada si dua investor tadi apakah menerima atau tidak harga itu.

      Kalau si founder sejak awal punya bisnis yang sudah running, maka harga ‘penawaran’ si founder bisa lebih tinggi. Karena persekutuan mereka bertiga (2 investor dan 1 founder) sama dengan mengakuisisi bisnis si founder yang sudah running menjadi milik perusahaan yang dimiliki mereka bertiga.

      Jadi ‘harga’ si founder ini tergantung pada banyak faktor. Misalnya bisnis yang dijalankan founder sudah sampai tahap apa: baru ide, prototype, MVP, growth, revenue, atau bahkan tahap profit. Latar belakang founder seperti apa. Termasuk juga latar belakang si 2 investor yang melakukan penaksiran.

  14. Selamat malam. saya mau bertanya. apa bila investor memiliki 35% saham. kemudian Founder memiliki 35% saham. lalu sisa dari 30% saham tersebut dimiliki 6 orang (5% tiap orang). apakah 6 orang tersebut memiliki suara pada saat RUPS. Jika punya, Saat dilakukannya voting,apakah mereka berdiri sebagai pendukung dari salah satu pemegang saham? kalau terdapat kekeliruan mohon diluruskan. terimakasih

    • Memiliki saham tidak otomatis memiliki hak suara dalam RUPS. Contoh; misal kita beli saham Google di bursa efek, kita kan nggak ikut RUPS nya Google.

      Jadi seorang pemodal/pemilik saham tersebut punya atau tidak punya hak suara (hak ikut) dalam RUPS, tergantung dari kesepakatan. Terutama kesepakatan saat pendirian. Bila diputuskan ada kelompok pemodal yang tidak diberi hak suara RUPS, maka diterbitkan klasifikasi saham khusus. Misalnya namanya Saham Seri X. Dimana pemilik saham X tidak punya hak suara atau tidak berhak ikut RUPS.

      Bila yang 6 pemodal di atas tidak diberi hak suara RUPS, maka ia mendapat saham klasifikasi seri X. Dengan begitu, RUPS hanya menjadi hak bagi investor (35%) dan founder (35%). Meski jumlah total saham di RUPS hanya 70%, namun keduanya punya hak suara masing2 50%-50% karena cuma 2 orang.

  15. Selamat Siang Pak Hilman,

    Terima kasih atas artikel dan penjelasan yang diberikan.

    Saya ingin menanyakan beberapa hal pak.

    Dari carita Andi, Bobi, Cecep diatas, jika case nya diubah menjadi seperti ini.

    Andi adalah seorang chef yang mahir dalam memasak, Bobi adalah orang management dan memiliki leadership yang baik. Keduanya tidak memiliki uang untuk mendirikan bisnis restorannya. Setelah melakukan perhitungan mereka memerlukan modal sebesar Rp 500 Juta untuk menjalankan usahanya (digunakan untuk working capital dan capital expense).

    Mereka melakukan forecasting untuk 5 tahun kedepan dan mendapatkan hasil Nilai Usaha saat ini sebesar Rp 4 Miliar dan Nilai Usaha di tahun ke-5 sebesar Rp 20 M (dihitung menggunakan kalkulator nilai usaha Arkademi).

    Andi dan Bobi akhirnya berencana untuk mengajak Cecep bergabung sebagai investor untuk usaha mereka. AB berencana menawarkan saham 20% kepada Cecep dengan nilai investasi sebesar Rp 500 Juta, uang ini akan digunakan sebagai capital expense dan working capital.

    Pertanyaannya:
    1. Modal dasar yang digunakan Rp 500 Juta atau Rp 4 M?
    2. Bagaimana dengan modal dasar, modal ditempatkan, dan modal disetor yang harus buat dengan notaris?
    3. Bagaimana skema permodalannya agar AB tetap mendapatkan modal Rp 500 Juta dengan nilai presentase saham 20%?
    4. Jika Cecep hanya memiliki uang Rp 150 Juta, apakah sisanya bisa diberikan kepada orang lain?
    5. Bagaimana cara memilih komisaris yang tepat untuk usaha mereka? Dan apa benefit yang bisa diberikan kepada komisaris?

    Terima kasih 🙂

    • @endytaufiq

      Untuk diingat, bagi usaha yang masih dalam tahap ide, menghitung valuasi hanya jadi bagian dari perencanaan usaha. Angka tersebut tidak merefleksikan apapun karena ‘belum ada barangnya sama sekali’. Sehingga, akan sangat sulit menggunakan angka tersebut untuk meyakinkan calon investor. Kecuali para founder sudah punya intangible value yang besar di pasar atau populer di bidang tersebut.

      Karena dalam kasus anda perusahaan belum terbentuk, maka belum ada saham yang diterbitkan untuk Andi dan Bobi. Dari yang saya tangkap, perusahaan baru akan didirikan kalau ada pemodal, dalam hal ini Cecep.

      Kalau dengan Rp 500 juta maka Cecep dapat 20%, maka modal dasar perusahaan mereka adalah Rp 2,5 Miliar (100%). Bukan 4 miliar.

      Bila mereka bertiga mendirikan PT, maka modal dasarnya Rp 2,5 miliar. Modal disetor dan modal ditempatkan juga Rp 2,5 miliar. Dengan catatan, Cecep sudah menyetor Rp 500 juta tersebut, dan Cecep mengakui intangible asset (aset tidak tampak) Andi dan Bobi yang masing-masing bernilai Rp 1 miliar setara tunai. Pengakuan ini dibuat di hadapan notaris. Yang ada di dalam rekening perusahaan tetap Rp 500 juta dari Cecep. Intangible Andi dan Bobi dalam pembukuan dimasukkan sebagai Aktiva Tetap Tak Berwujud.

      Misal, 100% itu artinya 1.000 lembar saham. Maka si Andi dapat 400 lembar (40%), Bobi 400 lembar (40%), dan Cecep 200 lembar (20%). Bila modal dasar Rp 2,5 miliar, maka per lembar saham harganya Rp 2,5 juta.

      Kalau Cecep hanya punya uang Rp 150 juta, maka ia hanya dapat Rp 150 juta / 2,5 juta 60 lembar atau 6%. Cecep tak punya sisa apapun, karena ia tak membeli saham lebih dari 60 lembar tersebut. Yang bisa mereka lakukan adalah mencari pemodal lain yang akan membeli sisa 14% saham atau 140 lembar tadi. Bisa juga mereka tetapkan modal dasar di awal Rp 2,5 miliar, Cecep cuma beli 60 lembar (150 juta), dan sisa 140 lembar disimpan oleh perusahaan sebagai portopel (statusnya belum dimiliki siapapun) yang bisa tawarkan kepada investor lain ketika perusahaan sudah berjalan.

      Perseroan di Indonesia biasanya menganut double chamber (dua kamar). Kamar pengelola (direksi) dan kamar pengawas (komisaris). Direksi dan komisaris ditunjuk dan diangkat oleh rapat umum pemegang saham (RUPS). Yang dipilih bisa dari mereka2 sendiri, bisa dari orang luar. Misal, Andi dipilih jadi dirut, Cecep jadi komisaris. Jadi Andi yang jalankan usaha, Cecep yang mengawasi. Bisa juga Cecep mengusulkan untuk mendudukkan temannya (dari luar perusahaan) yang paham bisnis sebagai komisaris. Sah saja selama disetujui RUPS.

      Kompensasi bagi direksi dan komisaris ditentukan dalam RUPS. Termasuk mau digaji atau tidak. Atau berapa besar gajinya.

  16. 1. Dalam kasus PT Kuliner diatas bagaimana cara menghitung/perkiraan pendapatan prospektif /nilai usaha. Misal dalam setahun bisa dapat angka (laba) sekian sehingga menghasilkan angka yang diisi dalam tahun 1,2,3-5 pada kalkulator arkademi untuk menghitung nilai usaha. Apakah seperti prediksi laba dalam setahun? terimakasih.

    2. Dalam kasus usaha (jasa) yang didirikan tanpa investor, apakah sebaiknya tetap dijalankan dulu sambil mencari investor atau tunggu sampai dapat investor baru usaha dijalankan. Misal dalam kondisi pengelola usaha hanya memiliki modal keahlian/jasa.

  17. Pagi pak hilman, apakah apabila bentuk perusahaan nya cv bisakah menerbitkan semacam saham untuk pembagian komposisi modalnya??

Beri Komentar

© 2017-2019 PT Arkademi Daya Indonesia