7 Kesalahan HR Saat Menyaring CV yang Sering Terjadi

7 Kesalahan HR Saat Menyaring CV yang Sering Terjadi
Dari ArkademiHuman Resource

Menyaring CV sering dianggap tahap paling sederhana dalam proses rekrutmen. Padahal, di tahap inilah banyak keputusan penting mulai terbentuk. Tanpa disadari, kesalahan kecil saat screening CV bisa membuat HR melewatkan kandidat potensial atau justru meloloskan kandidat yang kurang sesuai. Berikut tujuh kesalahan yang paling sering terjadi saat HR menyaring CV.

1. Terlalu Fokus pada Nama Kampus atau Perusahaan Terakhir

Banyak HR masih menjadikan nama kampus atau perusahaan besar sebagai indikator utama kualitas kandidat. Akibatnya, kandidat dengan skill relevan dan pengalaman praktis justru terlewat hanya karena latar belakangnya tidak “terkenal”. Padahal, kompetensi dan potensi sering kali lebih penting dibanding label institusi.

2. Mengabaikan Konteks Pengalaman Kerja

Kesalahan lain yang sering terjadi adalah menilai pengalaman kerja hanya dari durasi atau jabatan. HR kerap melewatkan konteks penting, seperti peran nyata kandidat, kontribusi dalam tim, atau tantangan yang pernah dihadapi. Tanpa melihat konteks, penilaian CV menjadi kurang akurat.

3. Terjebak Keyword tanpa Memahami Isinya

Penggunaan keyword memang membantu mempercepat screening. Namun, terlalu bergantung pada keyword tanpa membaca isi CV secara utuh bisa menyesatkan. Kandidat bisa saja menuliskan banyak istilah teknis, tetapi belum tentu memiliki kemampuan yang sesuai dengan kebutuhan posisi.

4. Standar Penilaian Tidak Konsisten

Setiap HR atau hiring manager sering memiliki standar penilaian masing-masing. Akibatnya, kandidat dengan profil serupa bisa mendapat hasil berbeda tergantung siapa yang menilai. Ketidakkonsistenan ini membuat proses screening tidak adil dan sulit dievaluasi kembali.

5. Menyaring CV dengan Bias Pribadi

Bias tidak selalu disadari. Preferensi usia, gender, latar belakang pendidikan, atau gaya penulisan CV dapat memengaruhi keputusan. Jika dibiarkan, bias ini berpotensi membuat proses rekrutmen tidak objektif dan merugikan perusahaan dalam jangka panjang.

6. Tidak Mendokumentasikan Alasan Lolos atau Gugur

Banyak proses screening CV berhenti pada keputusan “lolos” atau “tidak lolos” tanpa catatan yang jelas. Ketika manajemen meminta penjelasan atau HR ingin mengevaluasi proses rekrutmen, data pendukung sering kali tidak tersedia.

7. Mengandalkan Proses Manual Sepenuhnya

Saat jumlah pelamar meningkat, screening manual menjadi tidak efisien dan rawan kesalahan. CV bisa terlewat, penilaian menjadi terburu-buru, dan kualitas keputusan menurun. Di titik ini, HR sering kewalahan tanpa disadari.

Menghindari Kesalahan Screening CV di Era AI

Kesalahan-kesalahan di atas umum terjadi, terutama ketika HR harus menyaring banyak CV dalam waktu singkat. Di era digital, semakin banyak perusahaan mulai memanfaatkan teknologi untuk membantu proses ini agar lebih rapi, konsisten, dan terdokumentasi.

Pendekatan berbasis sistem dan AI memungkinkan HR menyimpan semua kandidat dalam satu alur, menerapkan kriteria yang sama, serta meninggalkan jejak keputusan yang bisa ditinjau kembali. Dengan begitu, HR tidak hanya bekerja lebih cepat, tetapi juga lebih objektif.

Jika Arkawan ingin proses screening CV jadi lebih terstruktur, konsisten, dan minim bias, LUNA AI Arkademi bisa membantu dengan alur rekrutmen yang rapi dari awal sampai akhir, termasuk screening CV berbasis AI, penilaian kandidat yang terdokumentasi, dan jejak keputusan yang bisa ditinjau kapan saja. Arkawan bisa mulai dari yang paling simpel dulu: coba Trial LUNA AI 30 hari plus akses course Arkademi untuk tim HR, lalu lihat sendiri dampaknya pada kecepatan dan kualitas shortlist kandidat.